Rabu, 08 Oktober 2025

Memaafkan sumber kemuliaan

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Oleh : Ust. Imam Muclis, S.Pd

Memaafkan, Sumber Kemuliaan Sejati

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah sedekah itu mengurangi dari harta sedikitpun. Tidaklah ada seseorang yang memberi maaf pada orang lain melainkan itu kemuliaan baginya. Dan tidaklah ada seorang hamba yang tawadhu (rendah hati) kecuali Allah akan angkat derajatnya.”
(HR. Muslim no. 2588)

Hadis mulia ini mengajarkan tiga pilar akhlak seorang muslim: bersedekah, memaafkan, dan tawadhu’. Ketiga hal ini bukan sekadar amalan ringan, tapi pondasi kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah.

1. Memaafkan, Bukan Tanda Kelemahan

Seringkali manusia menganggap memaafkan berarti kalah. Padahal, dalam pandangan Islam, memaafkan justru bentuk kekuatan hati. Allah SWT berfirman:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)

Memberi maaf bukan hanya melepaskan beban dari orang lain, tapi juga membebaskan hati kita sendiri dari dendam dan kebencian. Orang yang mampu memaafkan akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

2. Kemuliaan yang Allah Tambahkan

Nabi ﷺ menegaskan, “tidaklah seseorang memberi maaf kepada orang lain melainkan Allah akan menambah kemuliaan baginya.” Kemuliaan ini bisa berupa ketenangan jiwa, kedudukan yang mulia di sisi manusia, atau derajat tinggi di akhirat.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memaafkan karena Allah, maka Allah akan muliakan hatinya, angkat derajatnya, dan kuatkan pengaruh kebaikannya.”

3. Rendah Hati Mengangkat Derajat

Tawadhu’ adalah ciri khas orang beriman. Semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah, semakin rendah hati ia di hadapan manusia. Allah tidak akan merendahkan orang yang merendahkan diri karena-Nya, justru akan meninggikan derajatnya.

Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada balas dendam, tapi pada kemampuan memaafkan dan merendahkan hati.
Barang siapa ingin Allah muliakan, maka maafkanlah orang lain dan tanamkan sifat tawadhu dalam jiwa.

“Maafkanlah, niscaya Allah akan memuliakanmu. Rendahkan hatimu, niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.”

Referensi:

  • Shahih Muslim no. 2588

  • QS. Asy-Syura: 40

  • Madarij as-Salikin – Ibnul Qayyim



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahaya Body Shaming

  Bahaya Body Shaming Oleh : Imam Muclis, S.Pd Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....  Di era sekarang, body shaming menjadi sesuatu...