Sabtu, 09 Agustus 2025

Menerima Upah Dari Dakwah, Bolehkah ?

 


Judul: Imbalan Dalam Dakwah

Mukadimah

الحمد لله الذي أرسل رسله مبشّرين ومنذرين، وأمرهم بتبليغ رسالته دون طلب أجر، والصلاة والسلام على النبي الأمين، المبعوث رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan memerintahkan mereka untuk berdakwah hanya karena-Nya, tanpa mengharap imbalan dunia. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebaik-baik da'i dan penyeru kepada jalan Allah.

1. Dakwah Itu Amanah, Bukan Alat Mencari Keuntungan

Pada dasarnya dakwah bukanlah pekerjaan yang tujuannya untuk mencari kekayaan, ketenaran, atau pujian manusia. Dakwah adalah tugas suci untuk menyampaikan kebenaran, dengan keikhlasan hanya kepada Allah. Dan tidak menjadikan imbalan manusia sebagai tujuan utama, dan berusaha menilainya hanya sebagai penghargaan atas waktu dan tenaga yang di keluarkan.

Firman Allah tentang Nabi-Nabi terdahulu

فان توليتم فما سالتكم من اجر ، ان اجري الا على الله وامرت ان اكون من المسلمين

Artinya: Jika kamu berpaling dari peringatanku aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu upahku Tidak lain hanyalah dari Allah belaka Dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri kepadanya (Yunus : 72)

Ayat ini diulang oleh para nabi, seperti Nuh, Hud, Shalih, dan Syuaib ‘alaihimussalam. Mereka semua berkata:

"وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ"
"Aku tidak meminta imbalan dari kalian. Sesungguhnya imbalanku hanyalah dari Rabb semesta alam."
(QS. Asy-Syu’ara’: 109, 127, 145, 164, 180)

 Ini menjadi pelajaran bagi kita semua: jangan jadikan dakwah sebagai alat mencari dunia.

2. Dakwah dengan Ikhlas, Pasti Mendapat Imbalan Terbaik

Mungkin di dunia, dakwah tidak selalu menghasilkan materi. Tapi balasan dari Allah jauh lebih besar. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang berdakwah dengan ikhlas. Dan inilah keuntungan terbesar bagi mereka yang mengajak ke jalan Allah SWT.

Firman Allah:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin).”
(QS. Fussilat: 33)

 Imam Al-Qurthubi menafsirkan:

"هذه الآية شرفٌ لأهل الدعوة إلى الله."
"Ayat ini adalah kemuliaan bagi para penyeru kepada jalan Allah."
(Tafsir Al-Qurthubi, 15/314)

3. Rasulullah ﷺ Berdakwah Tanpa Pamrih

Rasulullah ﷺ adalah teladan dakwah yang paling murni. Beliau berdakwah tanpa mengharap harta, tahta, atau pujian. Bahkan ketika ditawari dunia, beliau menolaknya demi terus menyampaikan kebenaran.

Firman Allah:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ
"Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan dari kalian atas (dakwah) ini. Dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-adakan."
(QS. Shad: 86)

 Dalam hadis sahih disebutkan:

عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ، كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ: يَا قَوْمِ، إِنِّي رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ، وَإِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ، فَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ..."
"Perumpamaan diriku dan ajaran yang Allah utuskan padaku, seperti seseorang yang melihat musuh datang, lalu ia berteriak: 'Wahai kaumku, aku melihat musuh dengan mata kepalaku! Aku adalah pemberi peringatan yang nyata. Selamatkan dirimu!'..."
(HR. Bukhari & Muslim)

Dakwah beliau murni karena kasih sayang dan rasa takut terhadap umatnya, bukan karena ingin dipuji.

4. Jangan Jual Ayat untuk Dunia

Allah memberi peringatan keras kepada orang yang menggunakan ilmu agama untuk mendapatkan dunia, atau menjual ayat demi kepentingan pribadi.

Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ... وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا...
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan... dan menjualnya dengan harga murah... mereka itu tidak akan mendapat bagian di akhirat..."
(QS. Al-Baqarah: 174-175)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

"من طلب العلم للدنيا، مكر به الشيطان، فأخرجه من نية الآخرة."
"Barang siapa mencari ilmu (agama) untuk dunia, setan akan menipunya dan memalingkannya dari niat akhirat."
(Hilyatul Auliya’, 2/156)

Dakwah yang Tulus, Akan Mengubah Dunia

Jangan kecewa jika dakwah tidak dihargai manusia. Jangan kecil hati jika kebaikan yang kita ajarkan tak langsung diterima. Karena imbalan dari Allah lebih mahal dari segala yang bisa diberikan manusia.

Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
"Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
(QS. At-Taubah: 120)

 Tentu. Berikut ini saya tambahkan bagian khusus ke dalam ceramah "Imbalan Dalam Dakwah", membahas tentang bolehkah pendakwah atau guru agama menerima bayaran, disertai dalil-dalil, penjelasan ulama, dan batasannya, sehingga tetap menyatu secara utuh dan ilmiah:

5. Bolehkah Seorang Pendakwah atau Guru Agama Menerima Bayaran?

Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat:
"Kalau dakwah itu lillah (karena Allah), kenapa ustadz dibayar?"

Jawaban ulama: Dakwah harus ikhlas, tapi menerima bayaran sebagai bentuk penghargaan atau untuk kebutuhan hidup, itu boleh, bahkan diizinkan dalam syariat, selama niatnya bukan untuk dunia.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

"لا يجوز أخذ الأجرة على نفس التعليم، ويجوز على التفرغ له وترك الكسب."
"Tidak boleh mengambil bayaran untuk isi ilmu agama, tapi boleh untuk waktu dan tenaganya yang dicurahkan serta meninggalkan usaha duniawi."
(Al-Majmu', 9/86)

 Imam Ibn Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan:

"العلم لا يُؤخذ عليه أجر، لكن إن كان لتعويض وقت أو لقطع الكسب، فلا بأس."
"Ilmu agama tidak boleh diperjualbelikan, tetapi jika untuk mengganti waktu dan karena ia meninggalkan usaha, maka itu dibolehkan."
(Fathul Bari, 4/435)

Nabi ﷺ bersabda:

"إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ"
"Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah untuk mengajarkan Kitab Allah (Al-Qur'an)."
(HR. Bukhari no. 5737, Muslim no. 792)

Hadis ini menunjukkan bahwa mengambil upah untuk mengajar Al-Qur'an atau ilmu agama diperbolehkan, selama tidak diniatkan memperjualbelikan agama atau mencari dunia semata.

Jadi, Apa Batasannya?

  Boleh menerima bayaran jika:

  • Membantu menutupi kebutuhan hidup agar bisa fokus berdakwah dan memiliki usaha lain sebagai sumber kebutuhan. sehingga tidak menjadikan dakwah sebagai pekerjaan utama untuk memenuhi kebutuhan itu sendiri.

  • Sebagai kompensasi waktu dan tenaga, bukan bayaran atas isi agama itu sendiri.

  • Tetap menjaga niat ikhlas dan tidak menjadikan dakwah sebagai ladang komersial.

Tidak boleh jika:

  • Menjadikan imbalan sebagai motivasi utama.

  • Menolak berdakwah jika tidak dibayar. Atau tidak sesuai yang di inginkan.

  • Menjual hukum agama sesuai permintaan orang/penguasa.

Sebagai sebuah kesimpulan bagi kami dan kita semua yang telah mewakafkan diri di jalan dakwah.

1. Terus berdakwah, walau sedikit.

2. Terus mengajak kepada Allah, walau belum sempurna.

3. Karena dakwah adalah bukti cinta: kepada kebenaran, kepada manusia, dan kepada Allah  

4. Berdakwahlah walaupun diri belum baik, dan niatkan dakwah sebagai pengingat diri sendiri. 

5. Saat orang lain rela membayar mahal untuk ilmu dunia, kenapa dengan ilmu akhirat kita begitu pelit.

6. Berjuang  di jalan Allah dapat di lakukan dengan berbagai cara,

Ustad: Menyampaikan Ilmu Allah dengan penuh keikhlasan dan ketawadhuan, memberi contoh dengan harta jika memiliki kemampuan.

Orang Kaya : Beramal dengan hartanya, membantu lembaga pendidikan agama, masjid,  masjlis taklim, dan memfasilitasi guru jika di perlukan

Tenaga : Adalah cara yang umum dapat di lakukan semua kalangan,  memberikan tenaga kita untuk membantu syiar agama.

Wassalamualaikum wr wb 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahaya Body Shaming

  Bahaya Body Shaming Oleh : Imam Muclis, S.Pd Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....  Di era sekarang, body shaming menjadi sesuatu...