Rabu, 04 Februari 2026

KRISIS EMPAT DI MASYARAKAT

 Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Oleh : Imam Muclis, S.Pd
Judul : Krisis Empati di Masyarakat

Depok, 04 Februari 2026

Dukung kami untuk terus berkembang, share agar menjadi amala jariyah kita bersama.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menciptakan manusia dengan hati dan perasaan, agar kita mampu saling memahami dan menguatkan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam kasih sayang dan empati.



Sahabat MC Qu yang dirahmati Allah,
Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang ramai, namun terasa dingin. Banyak orang dekat secara fisik, tapi jauh secara hati. Kita mudah berkomentar, mudah menghakimi, namun sulit memahami. Inilah yang disebut krisis empati—ketika rasa peduli semakin menipis, sementara ego semakin meninggi.

Makna Empati dalam Islam
Empati dalam Islam bukan sekadar simpati, tetapi merasakan apa yang dirasakan orang lain dan mendorong kita untuk berbuat kebaikan. Rasulullah ﷺ mengajarkan empati sebagai bagian dari iman.

Beliau bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

Artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa empati adalah ukuran keimanan. Jika kita senang dihargai, maka hargailah orang lain. Jika kita tidak suka disakiti, maka jangan menyakiti.

Sahabat MC Qu,
Krisis empati terlihat ketika musibah dijadikan bahan candaan, kesalahan orang lain dijadikan konten, dan penderitaan dijadikan tontonan. Banyak yang sibuk mencari siapa yang salah, bukan siapa yang perlu ditolong.

Padahal Allah mengingatkan kita:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

Artinya:
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Āli ‘Imrān: 159)

Lemah lembut lahir dari empati. Tanpa empati, yang muncul hanyalah kekerasan kata dan dinginnya sikap.

Empati sebagai Akhlak Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah sosok paling berempati. Beliau menangis melihat penderitaan umatnya, meringankan beban orang lemah, dan tidak pernah meremehkan luka orang lain.

Allah berfirman tentang beliau:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, dan terhadap orang-orang beriman ia sangat penyantun dan penyayang.” (QS. At-Taubah: 128)


Sahabat MC Qu yang dimuliakan Allah,
Jika kita belum mampu menolong, setidaknya jangan menambah luka. Jika belum bisa memahami sepenuhnya, setidaknya jangan menghakimi. Empati tidak membuat kita lemah, justru menjadikan kita manusia seutuhnya.

Mari hidupkan kembali empati di tengah masyarakat, karena rahmat Allah turun pada hati yang peduli.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahaya Body Shaming

  Bahaya Body Shaming Oleh : Imam Muclis, S.Pd Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....  Di era sekarang, body shaming menjadi sesuatu...