IRI BOLEH, PADA 2 HAL INI.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan iri sering kali muncul ketika melihat orang lain memiliki kelebihan, baik dalam hal harta, kedudukan, maupun ilmu. Namun, Islam sebagai agama yang sempurna tidak membiarkan perasaan tersebut berkembang menjadi penyakit hati. Rasulullah ﷺ memberikan bimbingan yang indah agar rasa iri dapat diarahkan pada hal yang positif dan berpahala.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
“Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: (1) seseorang yang diberikan oleh Allah Al-Qur’an, lalu ia melaksanakannya siang dan malam, dan (2) seseorang yang diberikan oleh Allah harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa iri (ghibthah) yang dibolehkan hanyalah iri dalam arti ingin memiliki kebaikan seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang dari dirinya. Dua perkara yang boleh menjadi sumber iri adalah:
1. Orang yang menguasai Al-Qur’an dan mengamalkannya
Allah memberi keutamaan besar bagi siapa pun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Orang yang senantiasa membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an siang dan malam menunjukkan bahwa ia hidup dengan bimbingan wahyu.
Maka, jika kita melihat seseorang tekun membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, kita boleh “iri”—yakni ingin seperti dia—agar kita pun mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
2. Orang yang diberi harta lalu diinfakkan di jalan Allah
Kekayaan dalam Islam bukan untuk disombongkan, melainkan untuk dimanfaatkan di jalan kebaikan. Orang yang menggunakan hartanya untuk membantu sesama, menegakkan dakwah, atau mendukung pendidikan Islam adalah orang yang beruntung.
Iri kepada mereka berarti berdoa agar Allah juga memberi kita kemampuan untuk berinfak dan menolong orang lain sebagaimana mereka.
Saudaraku, marilah kita jadikan hadis ini sebagai pengingat agar hati kita terjaga dari iri yang tercela. Jika ingin iri, maka irilah pada orang yang rajin membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, serta pada orang yang gemar bersedekah di jalan Allah. Dengan begitu, rasa iri berubah menjadi semangat untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tidak ada komentar:
Posting Komentar