Kamis, 13 November 2025

EMPAT SUMBER KESOMBONGAN




Oleh : Ustadz. Imam Muclis, S.Pd
Materi Khutbah Jum'at // masjid Baitul Makmur, Curuq

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benarnya takwa. Karena hanya dengan takwa kita akan memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema:
“Empat Hal Sumber Kesombongan” — penyakit hati yang sering tidak disadari, tetapi sangat berbahaya, karena ia mampu menghapus amal kebaikan dan menjerumuskan ke dalam neraka.

Makna Kesombongan

Rasulullah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah kesombongan.”
(HR. Muslim)

Ketika sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, seseorang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus,” Rasul menjawab:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
(HR. Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan bukan tentang penampilan atau kenikmatan duniawi, tetapi tentang sikap hati yang menolak kebenaran dan meremehkan sesama. Orang yang sombong sulit menerima nasihat, menganggap dirinya selalu benar, dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Padahal Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi hati dan amal seseorang.

Empat Sumber Kesombongan

1. Sombong karena Harta

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ


Artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".  
Al-Qashash Ayat 76


Qarun adalah contoh manusia yang tertipu oleh harta. Ia sombong, merasa semua kekayaannya adalah hasil jerih payah dan kepintarannya sendiri. Padahal semua itu adalah titipan Allah. Akibat kesombongannya, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi bersama harta bendanya. Ayat ini menjadi peringatan bahwa harta bukanlah bukti kemuliaan, dan kesombongan karena harta justru mendatangkan azab.

2. Sombong karena Jabatan

Firman Allah Ta‘ala:

تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْأخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qashash Ayat : 83)


Ayat ini menjelaskan bahwa kemuliaan sejati bukan pada jabatan dan kekuasaan, melainkan pada ketakwaan. Orang yang mencari kekuasaan untuk meninggikan diri di atas orang lain termasuk golongan yang tidak mendapat tempat di akhirat. Sementara orang yang menjadikan jabatannya sebagai amanah untuk berkhidmat kepada umat akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah.

Rasulullah bersabda:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim, no. 2588)


Hadis ini menegaskan prinsip ilahi bahwa kemuliaan datang melalui kerendahan hati. Orang yang tawadhu’ tidak kehilangan wibawa, justru Allah sendiri yang meninggikannya di mata manusia dan di sisi-Nya. Sebaliknya, kesombongan karena jabatan hanya akan membuat seseorang hina di dunia dan celaka di akhirat.

3. Sombong karena Ilmu

Firman Allah Ta‘ala:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“… Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fāṭir [35]: 28)


Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan rasa bangga atau tinggi hati. Orang yang berilmu seharusnya semakin sadar akan kebesaran Allah dan kelemahan dirinya. Maka ketika ilmu justru membuat seseorang merasa paling benar dan merendahkan orang lain, berarti ilmunya belum menumbuhkan iman dan adab.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

“Ilmu yang tidak menumbuhkan ketawadhuan hanyalah kesombongan yang terselubung.”

4. Sombong Karena Ibadah

Kesombongan jenis ini sering kali tidak disadari, karena muncul dari sesuatu yang tampak baik: ibadah. Seseorang merasa dirinya ahli ibadah, rajin shalat malam, banyak sedekah, sering hadir di majelis ilmu — lalu hatinya terjerumus pada ujub dan takabbur. Ia mulai merendahkan orang lain yang dianggap kurang ibadahnya, seolah-olah dirinya sudah pasti menjadi penghuni surga.

Padahal, Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An-Najm Ayat : 32)


Ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak menilai dirinya lebih suci dari orang lain. Allah sajalah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Kesombongan dalam ibadah membuat seseorang kehilangan keikhlasan, karena tujuannya bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pengakuan manusia atau kepuasan diri.

Rasulullah juga mengingatkan:

قَالَ رَجُلٌ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ، فَقَالَ اللَّهُ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَك
“Ada seseorang berkata: Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan. Maka Allah berfirman: Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni seseorang? Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang itu dan membatalkan amalmu.”
 (HR. Muslim)


Hadis ini menggambarkan betapa berbahayanya merasa diri paling benar dan menilai orang lain tidak akan diampuni. Orang yang merasa paling suci, justru bisa kehilangan amalnya karena kesombongan hati. Ia lupa bahwa penerimaan ibadah bukan diukur dari banyaknya amal, tapi dari keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.

Kesimpulan

Kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena sering tidak disadari. Ia bisa tumbuh dari berbagai hal yang sejatinya adalah nikmat Allah. Namun ketika nikmat itu membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, maka di situlah awal kehancurannya.

  1. Sombong karena harta — menjadikan kekayaan sebagai alat untuk meremehkan orang lain dan melupakan bahwa semua itu hanyalah titipan. Padahal Allah dapat mencabutnya kapan saja.
  2. Sombong karena jabatan — membuat seseorang merasa berkuasa dan tidak membutuhkan nasihat. Ia lupa bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
  3. Sombong karena ilmu — menjadikan pengetahuan sebagai kebanggaan pribadi, bukan sarana untuk tunduk kepada Allah. Orang yang sombong dengan ilmunya tidak lagi mencari kebenaran, melainkan pembenaran diri.
  4. Sombong karena ibadah — penyakit yang paling halus, karena seseorang merasa paling suci, paling dekat dengan Allah, dan merendahkan orang lain. Padahal, Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahaya Body Shaming

  Bahaya Body Shaming Oleh : Imam Muclis, S.Pd Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....  Di era sekarang, body shaming menjadi sesuatu...