Oleh : Ustadz. Imam Muclis, S.Pd
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah
Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benarnya takwa. Karena hanya dengan takwa
kita akan memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib akan
menyampaikan khutbah dengan tema:
“Empat Hal Sumber Kesombongan” — penyakit hati yang sering tidak
disadari, tetapi sangat berbahaya, karena ia mampu menghapus amal kebaikan dan
menjerumuskan ke dalam neraka.
Makna Kesombongan
Rasulullah
ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ
كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah
kesombongan.”
(HR. Muslim)
Ketika
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, seseorang senang jika pakaiannya bagus dan
sandalnya bagus,” Rasul menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ
الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah
menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan bukan tentang penampilan atau kenikmatan
duniawi, tetapi tentang sikap hati yang menolak kebenaran dan meremehkan
sesama. Orang yang sombong sulit menerima nasihat, menganggap dirinya
selalu benar, dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Padahal Allah tidak
melihat rupa dan harta, tetapi hati dan amal seseorang.
Empat Sumber Kesombongan
1. Sombong karena Harta
Allah
Ta‘ala berfirman:
إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ
مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ
مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ
قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ
Artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku
aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan
harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu
terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu
membanggakan diri". Al-Qashash Ayat 76
Qarun adalah contoh manusia yang tertipu oleh harta. Ia sombong, merasa semua
kekayaannya adalah hasil jerih payah dan kepintarannya sendiri. Padahal semua
itu adalah titipan Allah. Akibat kesombongannya, Allah menenggelamkannya ke dalam
bumi bersama harta bendanya. Ayat ini menjadi peringatan bahwa harta bukanlah
bukti kemuliaan, dan kesombongan karena harta justru mendatangkan azab.
2. Sombong karena Jabatan
Firman
Allah Ta‘ala:
تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْأخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ
عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang
tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan
(yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qashash Ayat : 83)
Ayat ini menjelaskan bahwa kemuliaan sejati bukan pada jabatan dan kekuasaan,
melainkan pada ketakwaan. Orang yang mencari kekuasaan untuk meninggikan diri
di atas orang lain termasuk golongan yang tidak mendapat tempat di akhirat.
Sementara orang yang menjadikan jabatannya sebagai amanah untuk berkhidmat
kepada umat akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ
اللَّهُ
“Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat
derajatnya.”
(HR. Muslim, no. 2588)
Hadis ini menegaskan prinsip ilahi bahwa kemuliaan datang melalui kerendahan
hati. Orang yang tawadhu’ tidak kehilangan wibawa, justru Allah sendiri
yang meninggikannya di mata manusia dan di sisi-Nya. Sebaliknya, kesombongan
karena jabatan hanya akan membuat seseorang hina di dunia dan celaka di
akhirat.
3. Sombong karena Ilmu
Firman
Allah Ta‘ala:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ …
“… Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya
hanyalah para ulama.”
(QS. Fāṭir [35]: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada
Allah, bukan rasa bangga atau tinggi hati. Orang yang berilmu seharusnya
semakin sadar akan kebesaran Allah dan kelemahan dirinya. Maka ketika ilmu
justru membuat seseorang merasa paling benar dan merendahkan orang lain, berarti
ilmunya belum menumbuhkan iman dan adab.
Imam
Al-Ghazali rahimahullah berkata:
“Ilmu yang tidak menumbuhkan ketawadhuan hanyalah kesombongan yang terselubung.”
4. Sombong Karena Ibadah
Kesombongan jenis ini
sering kali tidak disadari, karena muncul dari sesuatu yang tampak baik: ibadah. Seseorang merasa dirinya ahli
ibadah, rajin shalat malam, banyak sedekah, sering hadir di majelis ilmu — lalu
hatinya terjerumus pada ujub dan takabbur. Ia mulai merendahkan orang lain yang
dianggap kurang ibadahnya, seolah-olah dirinya sudah pasti menjadi penghuni
surga.
Padahal, Allah ﷻ
berfirman:
ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
Artinya: (Yaitu) orang-orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia
lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan
ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan
dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An-Najm
Ayat : 32)
Ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak menilai dirinya lebih suci
dari orang lain. Allah sajalah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.
Kesombongan dalam ibadah membuat seseorang kehilangan keikhlasan, karena
tujuannya bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pengakuan manusia
atau kepuasan diri.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
قَالَ رَجُلٌ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ
اللَّهُ لِفُلَانٍ، فَقَالَ اللَّهُ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا
أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَك
“Ada seseorang berkata: Demi Allah, Allah
tidak akan mengampuni si fulan. Maka Allah berfirman: Siapa yang berani
bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni seseorang? Sesungguhnya
Aku telah mengampuni orang itu dan membatalkan amalmu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa berbahayanya merasa diri paling benar dan
menilai orang lain tidak akan diampuni. Orang yang merasa paling suci, justru
bisa kehilangan amalnya karena kesombongan hati. Ia lupa bahwa penerimaan
ibadah bukan diukur dari banyaknya amal, tapi dari keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.
Kesimpulan
Kesombongan adalah penyakit hati yang paling
berbahaya karena sering tidak disadari. Ia bisa tumbuh dari berbagai hal yang
sejatinya adalah nikmat Allah. Namun ketika nikmat itu membuat seseorang merasa
lebih tinggi dari orang lain, maka di situlah awal kehancurannya.
- Sombong
karena harta —
menjadikan kekayaan sebagai alat untuk meremehkan orang lain dan melupakan
bahwa semua itu hanyalah titipan. Padahal Allah dapat mencabutnya kapan
saja.
- Sombong
karena jabatan —
membuat seseorang merasa berkuasa dan tidak membutuhkan nasihat. Ia lupa
bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang kelak akan dimintai
pertanggungjawaban.
- Sombong
karena ilmu —
menjadikan pengetahuan sebagai kebanggaan pribadi, bukan sarana untuk
tunduk kepada Allah. Orang yang sombong dengan ilmunya tidak lagi mencari
kebenaran, melainkan pembenaran diri.
- Sombong
karena ibadah —
penyakit yang paling halus, karena seseorang merasa paling suci, paling
dekat dengan Allah, dan merendahkan orang lain. Padahal, Allah lebih
mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar