Pemateri :Imam Muclis, S.Pd. (Glr. Tuan Sunan)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Di antara ungkapan para ulama yang masyhur dan sarat makna adalah:
رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ،
وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan
menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”
Ungkapan ini bukan hadis Nabi ﷺ,
tetapi atsar para ulama salaf,
dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali
dalam Lathā’if al-Ma‘ārif.
Maknanya sangat benar dan sejalan dengan ajaran Islam tentang persiapan amal.
Kaum
muslimin rahimakumullah, perjalanan spiritual seorang mukmin tidak terjadi
secara tiba-tiba. Ibadah yang kuat dan bermakna selalu
diawali dengan persiapan yang matang. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama
menggambarkan proses persiapan menuju Ramadhan seperti aktivitas bertani: ada
masa menanam, menyiram, dan memanen. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa Ramadhan
tidak akan bermakna jika tidak dipersiapkan sejak jauh hari.
Ungkapan “Rajab bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan
Ramadhan bulan memanen” bukan hadis Nabi ﷺ,
namun merupakan hikmah para ulama salaf yang maknanya selaras dengan
Al-Qur’an dan Sunnah. Rajab mengajarkan kita memulai taubat dan amal, Sya’ban
menguatkannya dengan konsistensi, dan Ramadhan menjadi waktu menuai ampunan
serta pahala besar dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Allah
Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan
muslim.”
(QS. Āli ‘Imrān: 102)
Rajab: Bulan
Menanam Amal
Jama’ah
Jum’at yang dimuliakan Allah,
Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah. Bulan ini adalah waktu yang tepat untuk menanam benih amal kebaikan dan memulai taubat.
Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ
شَهْرًا … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan…
di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.”
(QS. At-Taubah: 36)
Makna menanam di bulan Rajab adalah memulai perubahan:
meninggalkan maksiat, memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, dan
membiasakan amal sunnah. Sebab, seseorang tidak akan menuai hasil di Ramadhan
bila ia tidak menanam amal sebelumnya.
Sya’ban:
Bulan Menyiram Amal
Setelah
benih ditanam, ia perlu disiram agar tumbuh kuat. Itulah makna bulan Sya’ban.
Rasulullah ﷺ memberikan
teladan dengan memperbanyak puasa di bulan ini.
Dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ إِلَّا
قَلِيلًا
Artinya: “Rasulullah ﷺ berpuasa
pada bulan Sya’ban hampir seluruhnya, kecuali sedikit.”
(HR. Muslim)
Puasa,
dzikir, dan membaca Al-Qur’an di bulan Sya’ban berfungsi menjaga konsistensi
iman, agar hati tidak kaget dan berat ketika memasuki Ramadhan.
Ramadhan: Bulan Memanen Amal
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan. Inilah waktu
panen bagi orang-orang yang telah mempersiapkan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap
pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, panen Ramadhan hanya akan dirasakan oleh mereka yang
bersungguh-sungguh menanam dan menyiram amal sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar