Khutbah Idul Fitri
Idul Fitri Bukan Akhir Ibadah, Tapi Awal Keistiqomahan
Oleh : Imam Muclis, S.Pd
Masjid Gadog Raya
الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر
الله أكبر ولله الحمد.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan inilah bekal terbaik dalam kehidupan
kita di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.
Hari ini kita merayakan Idul Fitri, hari kemenangan
bagi kaum muslimin setelah satu bulan penuh menjalani ibadah Ramadhan. Namun
kita perlu menyadari bahwa Idul Fitri bukanlah akhir dari ibadah yang kita
lakukan, melainkan awal dari perjalanan untuk menjaga ketaatan kepada
Allah secara terus-menerus.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Ramadhan yang telah kita lalui sejatinya adalah syahru
tarbiyah, yaitu bulan pendidikan dan pembinaan iman. Selama satu
bulan penuh Allah mendidik kita melalui berbagai bentuk ibadah yang sangat agung.
Puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, dan berbagai amal
kebaikan lainnya merupakan sarana yang Allah siapkan untuk membentuk pribadi
seorang muslim agar menjadi lebih bertakwa.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian
bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama dari ibadah Ramadhan
adalah membentuk ketakwaan dalam diri seorang muslim. Oleh karena itu,
apabila setelah Ramadhan seseorang menjadi lebih taat kepada Allah, maka itulah
tanda bahwa ia berhasil mengambil pelajaran dari madrasah Ramadhan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, Allah ﷻ tidak hanya memerintahkan kita untuk
berpuasa, tetapi juga mendidik jiwa kita melalui berbagai bentuk ibadah.
Karena itu Ramadhan sering disebut sebagai madrasah ruhaniyah, yaitu
sekolah spiritual yang membentuk pribadi seorang muslim agar menjadi lebih
baik. Dari madrasah Ramadhan ini terdapat banyak pelajaran berharga yang
seharusnya kita bawa dalam kehidupan setelah Ramadhan.
Di antara pelajaran besar yang diajarkan Ramadhan adalah kesabaran
dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Selama berpuasa kita belajar
menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal, seperti makan dan minum, sejak
terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika terhadap sesuatu yang halal saja
kita mampu menahan diri karena perintah Allah, maka seharusnya kita lebih mampu
lagi menahan diri dari perkara yang haram. Inilah pendidikan kesabaran yang
diberikan Ramadhan, yaitu melatih seorang muslim agar mampu mengendalikan hawa
nafsunya dan tetap teguh dalam ketaatan kepada Allah.
Selain itu Ramadhan juga mendekatkan kita dengan
Al-Qur’an. Di bulan ini kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak tilawah
Al-Qur’an. Masjid-masjid dipenuhi oleh orang yang membaca dan mendengarkan
Al-Qur’an. Banyak di antara kaum muslimin yang berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an
selama Ramadhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk
hidup yang seharusnya selalu kita dekatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Allah ﷻ berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى
لِلنَّاسِ
Artinya:
"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai
petunjuk bagi manusia." (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini
menunjukkan bahwa Ramadhan dan Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat erat.
Karena itu salah satu pelajaran penting dari Ramadhan adalah menjadikan
Al-Qur’an sebagai sahabat yang selalu kita baca dan renungkan sepanjang
kehidupan kita.
Ramadhan juga mengajarkan kita kedekatan dengan Allah
melalui ibadah malam. Selama bulan Ramadhan kita terbiasa melaksanakan
shalat tarawih dan menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Masjid-masjid yang
biasanya tidak terlalu ramai menjadi penuh oleh jamaah yang ingin mendekatkan
diri kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya setiap muslim memiliki
kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah malam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
Artinya:
"Barang siapa yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan iman dan
mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR.
Bukhari dan Muslim)
Selain itu, puasa juga mendidik kita untuk menjaga diri
dari dosa dan memperbaiki akhlak. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus,
tetapi juga menahan lisan dari perkataan yang buruk, menahan pandangan dari hal
yang diharamkan, serta menahan diri dari berbagai perilaku yang tidak baik.
Puasa mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan memperbaiki akhlak
dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ
أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ
يومئذٍ وَلَا يَسْخَبْ
Artinya:
"Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa maka janganlah
berkata kotor dan jangan pula berbuat gaduh." (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ramadhan juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang
dermawan dan peduli kepada sesama. Pada bulan ini kaum muslimin
berlomba-lomba dalam bersedekah, memberi makanan berbuka, membantu fakir
miskin, serta menunaikan zakat. Ketika kita merasakan lapar dan haus saat
berpuasa, kita menjadi lebih memahami penderitaan saudara-saudara kita yang
kekurangan. Inilah pendidikan sosial yang diajarkan Ramadhan, yaitu menumbuhkan
rasa empati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ
يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang
telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada hari itu
tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada pula
syafaat." (QS. Al-Baqarah:
254)
Ayat ini mengingatkan
kita bahwa harta yang kita miliki sebenarnya adalah titipan dari Allah ﷻ, dan salah satu cara mensyukurinya adalah
dengan menginfakkannya di jalan kebaikan. Ramadhan telah melatih kita untuk
menjadi pribadi yang dermawan, membantu fakir miskin, memberi makanan berbuka,
serta memperbanyak sedekah. Kebiasaan ini seharusnya tidak berhenti setelah
Ramadhan berakhir, karena sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga
membersihkan hati dari sifat kikir dan menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap
sesama. Dengan sedekah, seorang muslim belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya
berasal dari memiliki, tetapi juga dari memberi dan berbagi kepada orang lain.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setelah semua pelajaran besar ini kita dapatkan dari bulan
Ramadhan, maka jangan sampai semua kebaikan tersebut berhenti ketika Ramadhan
berakhir. Justru Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk menjaga dan
melanjutkan semua amal kebaikan tersebut.
Allah ﷻ memerintahkan kita
untuk tetap istiqomah dalam ketaatan. Allah berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
Artinya:
"Maka tetaplah engkau istiqomah sebagaimana diperintahkan." (QS. Hud: 112)
Istiqomah berarti terus menjalankan ketaatan kepada Allah
dalam setiap keadaan, baik ketika sedang semangat maupun ketika sedang lemah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ
أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya:
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan
secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting
bukanlah banyaknya amal yang dilakukan sesaat, tetapi keberlanjutan amal
tersebut dalam kehidupan kita.
Lebih baik seseorang membaca Al-Qur’an setiap hari walaupun
hanya beberapa ayat daripada membaca banyak tetapi jarang dilakukan. Lebih baik
seseorang menjaga shalat malam walaupun hanya dua rakaat secara rutin daripada
melakukannya sekali-sekali lalu meninggalkannya.
Allah juga menjanjikan kemuliaan besar bagi orang-orang yang
istiqomah. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟
وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
"Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,
maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu
takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang
telah dijanjikan Allah kepadamu".
Marilah kita
jadikan Idul Fitri ini sebagai awal untuk menjaga amal-amal Ramadhan. Kita terus menjaga shalat berjamaah, terus membaca Al-Qur’an
setiap hari, membiasakan shalat malam walaupun sedikit, memperbanyak sedekah,
serta menjaga akhlak dan lisan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan
Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang
yang istiqomah dalam ketaatan hingga akhir hayat.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar